Hikayat Keadilan Pejuang HAM Tenggelam Dalam Secangkir Kopi

Munir dan Mirna sama-sama mati diracun. Satu karena arsenik, satu lagi sianida. Apa perbedaannya? Munir bukan orang biasa, dia pejuang hak asasi yang kematiannya mengguncang negeri. Mirna 'bukan siapa-siapa', hanya masyarakat biasa. Ironisnya, 12 tahun berlalu hukum seperti tak berpihak pada Munir. kasus kematian Mirna sungguh mewah dan di-blow up hingga membesar tak terkira, sedangkan Munir justru perlahan tenggelam dan padam meski tak kunjung lelah diteriakkan


Mengenang Goresan Luka Sejarah Bangsa


Nyawa mereka sama sama terenggut oleh racun yang , Munir adalah nama yang sangat familiar bagi mereka para pejuang hak asasi , tapi kini seakan media buta
dan menggelamkan kisah perjuangan nya yang harus berakhir oleh racun arsenik di dalam secangkir kopi bahkan dari kasus jessica dan mirna ini banyak menghilmami
para pengusaha warung kopi dan menjadi nama brand kopi mereka .

Media seolah olah buta atau kami yang bodoh seolah-olah terserat oleh trend news yang di buat oleh mereka , jika kita amati lebih dalam kasus mirna tidak ada
penting pentingnya untuk di ikuti oleh khalayak umum jika di banding dengan kasus racun yang membuat nyawa Munir melayang bersama pesawat yang di tumpangi waktu itu

12 tahun sudah kasus ini tenggelam , akankah kasusnya akan terungkap dari hitamnya kopi yang tertuang di dalam cangkir... 

mungkin media enggan untuk mengungkap kasus ini karena banyak kepentingan para elit politik terdahulu ntah siapa mereka ???
inilah yang menjadi pertanyaan besar kami dan untuk penerus kami kelak . apakah kita layak di sebut negara besar jika tidak mampu mengungkap
siapa "pembunuh" sang pejuang HAK asasi manusia .

Negara ini penuh dengan luka sejarah yang hanya menambah kebohongan kepada the next generatio bangsa kita , apakah kita siap jika generasi
emas kita kelak harus pudar karena sejarah yang di palsukan atau di lupakan .

Mengenang Goresan Luka Sejarah Bangsa , Munir Pejuang HAM 


Pekan 7 September 2014, peringatan mengenang kepergian tokoh HAM Munir Said Thalib digelar di beragam ruangan. Ya, terhadap 7 September sepuluh th dulu, tepatnya 7 September 2004, lelaki berdarah Aab yg akrab disapa Munir itu meninggal dalam perjalanan menuju Amsterdam. 

Di atas langit Rumania, atau dua jam sebelum mendarat di Bandara Schipol Amsterdam, Munir menghembuskan nafas terakhir, sesudah berjam-jam lamanya dalam penerbangan tersebut ia buang-buang air. Cuma beralaskan selimut di lantai pesawat Garuda Indonesia No. penerbangan GA 974 maksud Amsterdam, Munir menemui takdirnya, wafat di 
negara jauh, tidak dengan didampingi keluarga & beberapa orang terdekatnya. 

Dikala menunjuk pukul 05.10 GMT atau 12.10 WIB, disaat sarapan tetap terjadi & lampu kabin tetap menyala, Madjib, salah seseorang kru Garuda melangkahkan kaki mengahdiri “tempat tidur” Munir. Di depan kursi 4D-E, beliau menyaksikan badan Munir dalam posisi miring menghadap kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tak berbusa, & telapak 
tangannya membiru. Ia memegang tangan Munir & meraih rasa dingin. Madjib yg kaget bergegas menuju kursi satu orang dokter bernama dr. Tarmizi, yg dikenal Munir menjelang penerbangan. Dokter memegang pergelangan tangan Munir sambil tangan satunya menepuk-nepuk punggung. Dirinya berulang-ulang berujar, “Pak Munir… Pak Munir….“ Hasilnya, 
dokter Tarmizi memandang Madjib. Dr. Tarmizi bicara pelan, “Pak Munir meninggal… Kok secepat ini, ya…. Jika hanya muntaber, manusia mampu tahan tiga hri.” Madjib meminta dua kawannya, Bondan & Asep membantunya mengangkat badan kaku Munir ke lokasi yg tambah baik : lantai depan kursi 4J-K. Munir berbaring diatas dua lembar selimut, ke-2 matanya dipejamkan oleh Bondan, tubuhnya ditutupi selimut. 

Bondan & Asep membaca surat Yassin di depan jenazah Munir Said Thalib, empat puluh ribu kaki diatas tanah Rumania. 

Kepada tanggal 12 Nopember 2004 dikeluarkan berita bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak- jejak senyawa arsenikum sesudah otopsi. Factor ini pun dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum ketahuan siapa yg sudah meracuni Munir, walaupun ada yg menduga bahwa oknum-oknum tertentu benar-benar mau menyingkirkannya. 

Kepada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 thn hukuman penjara atas pembunuhan kepada Munir. Hakim menyebut bahwa Pollycarpus, satu orang pilot Garuda yg sedang cuti, menyimpan arsenik di makanan Munir, lantaran ia mau "mendiamkan" pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyebut bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima sekian banyak panggilan telpon dari suatu telephone yg tercatat oleh agen intelijen senior, namun tak memaparkan lebih lanjut. Terkecuali itu Presiden Susilo pula menempa tim investigasi independen, tapi hasil penyelidikan tim tersebut tak sempat diterbitkan ke publik. 

Kepada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, yg kebetulan serta orang dekat Prabowo Subianto & Wakil Ketua Umum Partai Gerindra dikala itu, diringkus dgn dugaan kuat bahwa beliau yaitu otak pembunuhan Munir. Bermacam kebenaran kuat & kesaksian mengarah padanya.Tapi, kepada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini amat sangat kontroversial & kasus ini tengah ditinjau ulang, pun 3 hakim yg memvonisnya bebas saat ini tengah diperiksa. 

*** 
Kenapa Munir mesti "didiamkan" selama-lamanya? Adakah dirinya mirip monster bagi aparat keamanan Indonesia diwaktu itu? Sehingga, marilah kita telusuri jejak Munir yg pun kerap disapa Cak Munir itu. 

Dimulai kepada 16 April 1996, diwaktu Munir mendirikan Komosi utk Orang Hilang & Korban Kekerasan (KontraS) pun jadi Koordinator Tubuh Pekerja di LSM ini. Di Instansi inilah nama Munir sejak mulai bersinar, kala beliau laksanakan advokasi pada para aktivis yg jadi korban penculikan rezim penguasa Soeharto. Perjuangan Munir pastinya tidak luput dari beraneka teror berupa ancaman kekerasan & pembunuhan pada diri & keluarganya. Usai kepengurusannya di KontraS, Munir ikut mendirikan Instansi Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia, Imparsial, di mana dirinya menjabat juga sebagai Direktur Eksekutif. 

Waktu menjabat Koordinator KontraS namanya melambung yang merupakan satu orang pejuang bagi beberapa orang hilang yg diculik terhadap musim itu. Waktu itu dirinya membela para aktivis yg jadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus yg dipimpin oleh Prabowo Subianto. 

Atas perjuangannya yg tidak kenal lelah, beliau pula memeroleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000), suatu penghargaan prestisius yg dinamakan juga sebagai Nobel alternatif dari Yayasan The Right Livelihood Award Jacob von Uexkull, Stockholm, Swedia di sektor pemajuan HAM & Kontrol Sipil pada Militer di Indonesia. Diawal Mulanya, Majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya jadi salah seseorang dari 20 pemimpin politik bujang Asia kepada 
milenium baru & Man of The Year version majalah Ummat (1998). 

Kasus-Kasus yg sempat ditangani Munir anatara lain; yang merupakan Penasihat Hukum warga Nipah, Madura, dalam kasus permintaan pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, jatim; 1993. Penasihat Hukum Sri Bintang Pamungkas (Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi & perkara hukum Administrative Court (PTUN) untuk 
pemecatannya yang merupakan dosen, Jakarta; 1997. Penasihat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua Umum SBSI) dalam kasus subversi, Jakarta; 1997. Penasihat Hukum Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI & anggota PRD) dalam kasus subversi, Surabaya;1996. Penasihat Hukum mahasiswa & petani di Pasuruan dalam kasus kerusuhan PT. Chief Samsung; 
1995. Penisehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, jatim; 1993. Penasihat Hukum DR. George Junus Aditjondro (Dosen Kampus Kristen Satyawacana, Salatiga) dalam kasus penghinaan kepada pemerintah, Yogyakarta; 1994. Penasihat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktivis & mahasiswa di Jakarta; 1997-1998. 
Penasihat Hukum dalam kasus pembunuhan besar-besaran pada penduduk sipil di Tanjung Priok 1984; sejak 1998. Penasihat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi 1 & 2; 1998-1999. Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur; 1999. Penggagas Komisi Perdamaian & Rekonsiliasi di Maluku. Penasehat Hukum & 
Koordinator Advokat HAM dalam kasus-kasus di Aceh & Papua (dengan KontraS). 


Sedemikian tidak sedikit yg diperbuat Munir utk membela mereka yg jadi korban penindasan & kasus-kasus kemanusiaan bangsa ini. & dari sekian kasus, memaksa Munir mesti berhadap-hadapan dgn aparat keamanan. Karena keberaniannya menanggung risiko, mulai sejak yg berbentuk ancaman fisik sampai pegatnya nyawa, menciptakan Munir 
disegani oleh sahabat & lawan. 

Nama Munir saat itu benar-benar menggetarkan mereka yg menyukai berkata dgn kekerasan. Di lain segi, Munir yaitu teman sekaligus pembela mereka yg teraniaya. Ini aku rasakan betul kala Jakarta sedang "musim" demonstrasi terhadap Mei 1998. 

Kepada suatu hri di bln Mei 1998, Disaat berunjuk rasa mahasiswa sedang berjalan disekitar Semanggi, aku & sekian banyak kawan jurnalis yg berlalu di depan gerombolan tentara yg sedang istirahat di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, diteriaki oleh tentara-tentara bujang itu, "Sana lapor ke Munir, kita nggak takut." 

Entah apa tujuan dari kata kata salah satu tentara yg selanjutnya diikuti tertawa penuh ejekan itu terhadap kami. Namun aku menangkap, mereka sungguh jeri pada Munir. Mereka paham, Munir yaitu musuh dengan, sebab sepak terjang Munir kemungkinan dianggap jadi penghalang tugas mereka "meneggakkan" keamanan di bumi pertiwi ini. 

Kami pasti saja tidak melayani guraun sengit para tentara itu. Namun dalam hati aku, sungguh hebat lelaki berperawakan mungil dgn kumis kemerahan bernama Munir itu. Namanya telah jadi momok yg menakutkan bagi pihak keamanan yg berbekal senjata & kekuasaan. 

Munir ya Munir Said Thalib (lahir di Malang, jatim, 8 Desember 1965). Aku mengenalnya dari kejauhan, biarpun sekali dua juga sempat berjumpa muka dengannya. Kepada jumpa mula-mula di kawasan Blok M saat itu, aku serta-merta bersimpati kepadanya. Satu Orang lelaki dgn nama akbar itu sungguh bersahaja. Ke mana-mana berkendara motor sendirian. Suatu perbuatan yg menurut aku pass ceroboh. Mengingat pekerjaannya yg menantang bahaya. Tetapi begitulah Munir, urat takutnya jangan-jangan telah putus, maka tidak ada yg butuh ditakuti, biarpun ancaman yg dapat membahayakan dia datang bertubi-tubi. 

Ketika berdekatan dengannya, aku pun merasakan aura kesederhanaan. ga ada wangi parfum meruap, pun tidak ada hiasan tubuh seperti arloji atau kalung emas yg jamak difungsikan oleh tidak sedikit pengacara yg mempunyai nama ternama seperti dia. Dari rekan-rekan yg dekat dengannya, aku mendapat narasi, benda termewah yg sempat dimilikinya hanya 
satu buah mobil Toyota Mark II keluaran th ’81 seharga sepuluh juta rp yg dibelinya dengan cara mencicil. Munir senang mengutak atik soundsystem mobilnya itu, lantaran dirinya senang mendengar musik. Munir pula sempat punyai yang di cita citakan utk mempunyai studio kedap nada didalam rumahnya biar dirinya sanggup bebas mendengar musik musik kesukaannya. Tetapi yang di cita citakan itu 
belum sempat tercapai, “Rumah kami pula terlampaui sempit buat ditambah tempat seperti itu” papar Suciwati, isteri Munir. Dikala sang istri membelikan kemeja di salah satu mall biarpun bersama harga discount 50%, Munir bukannya gemar, malah tampak stress. 

Mengenangkan MUnir, ialah mengenangkan luka histori yg tidak mampu disembuhkan. Ya, seperti luka-luka yang lain yg demikian tidak sedikit menganga di sekujur badan negara ini. Luka "Tragedi 1965", DOM Aceh, Priok, tragedi 27 Juli, tragedi Poso, Sampit, Trisakti, & lain-lain. 

Entahlah, kabut demikian gelap menutupi hampir seluruhnya tragedi kemanusiaan di negara ini. Termasuk Juga kepada kasus pembunuhan Munir. Bahkan Presiden, jabatan teratas di negara ini, seperti tidak berdaya kala berhadapan dgn tragedi kemanusiaan yg menimpa rayatnya. Berapa kali presiden berganti, masihlah pula cuma hingga kepada koma, belum hingga titik. 

Mudah-mudahan penantian Suciwati bakal jawaban, siapa sesungguhnya dalang pembunuh suaminya bakal terjawab. Pasti, yg mati tidak dapat kembali, namun bahwa pertanyaan mesti mendapati jawaban ialah satu buah keniscayaan. Dikarenakan dari sana, moga-moga bakal menyiutkan nyali para pemburu kekuasaan yg tega menghilangkan nyawa satu orang. Setelah Itu, kita juga mampu mencari ilmu kembali, dengan cara apa trick menghargai & mengormati mereka yg berlainan dari kita. 

Sumber @JodhiY

Subscribe Email anda untuk mendapatkan update BeritaRakyat di email updates:

0 Response to "Hikayat Keadilan Pejuang HAM Tenggelam Dalam Secangkir Kopi"

Post a Comment